Kelulusan adalah momen yang sejak dulu kami tunggu-tunggu, namun saat akhirnya datang, ternyata rasanya jauh lebih berat dari yang dibayangkan.
Kami berdiri saling merapat, mencoba tersenyum lebar di depan kamera, meski di dalam dada ada haru yang pelan-pelan menyesakkan.
Seragam yang dulu terasa biasa saja, yang sering kami keluhkan setiap pagi, kini mendadak menjadi benda paling berharga—saksi ribuan cerita, tawa, tangis, perjuangan, dan kebersamaan yang tak akan terulang sama persis.
Tawa pecah di sela hitungan kamera yang tak selalu kompak. Ada yang bergaya konyol agar suasana tetap ceria, ada yang berusaha terlihat dewasa, padahal matanya mulai berkaca-kaca.
Setiap jepretan terasa lebih dari sekadar foto. Ia seperti berusaha menahan waktu, menyimpan detik-detik terakhir kebersamaan yang sebentar lagi akan berubah menjadi kenangan.
Kami sadar, setelah hari ini jalan kami akan mulai berbeda. Akan ada mimpi yang dikejar ke arah masing-masing, ada jarak yang perlahan tercipta, dan ada pertemuan yang mungkin tak akan sesering dulu lagi.
Namun foto itu akan selalu menjadi bukti, bahwa pernah ada masa paling indah dalam hidup kami—masa ketika kami tumbuh bersama, tertawa bersama, berjuang bersama, dan saling menguatkan tanpa syarat.
Suatu hari nanti, saat rindu datang diam-diam, kami hanya perlu melihat foto itu… lalu mengingat, bahwa kami pernah menjadi “kita.”